infopali.co.id Degradasi Leicester City dari Premier League meninggalkan secercah kegelapan bagi masa depan Ruud van Nistelrooy. Setelah kekalahan tipis 0-1 dari Liverpool, kapal Leicester karam, menenggelamkan harapan sang pelatih asal Belanda. Meskipun Leicester berjuang gigih dalam beberapa pekan terakhir, layaknya kuda perang yang terluka namun tetap berlari, nasib tak bisa dielakkan.
Van Nistelrooy menyatakan kekecewaannya yang mendalam. Ia mengakui bahwa beberapa minggu terakhir terasa seperti mimpi buruk, di mana harapan demi harapan sirna bagai debu yang tertiup angin. Namun, ia menegaskan bahwa timnya selalu berjuang habis-habisan hingga akhir musim. Setidaknya, mereka berupaya menutup musim dengan kepala tegak, meski harus menelan pil pahit degradasi.

Sejak ditunjuk November lalu menggantikan Steve Cooper, Van Nistelrooy hanya mampu mempersembahkan dua kemenangan dari 21 pertandingan Premier League. Rekor yang bagaikan mimpi buruk bagi seorang pelatih sekelasnya. Namun, ia menolak untuk menyesali langkah-langkah yang telah diambilnya. "Saya telah melakukan semua yang terbaik untuk klub," tegasnya. Setiap keputusannya, katanya, diambil demi satu tujuan mulia: memperoleh poin sebanyak mungkin.
Namun, soal masa depannya? Van Nistelrooy masih bungkam. Ia mengaku belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saat ini, fokusnya adalah mengambil tanggung jawab untuk mempersiapkan musim depan. "Saya ingin tahu rencana ke depan dan berharap ada kejelasan sebelum pramusim dimulai," ujarnya. Ia berharap pembicaraan dengan petinggi klub segera terlaksana.
Van Nistelrooy jujur mengakui bahwa pekerjaannya jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Ia melihat jurang perbedaan kualitas yang sangat besar antara tim promosi dan tim-tim lain di Premier League. Dengan Southampton sudah lebih dulu terdegradasi dan Ipswich diprediksi menyusul, ketimpangan kualitas antara tiga tim terbawah dan 17 tim lainnya sungguh mencolok. Ia berharap bisa meraih lebih banyak poin, meski mengakui ada beberapa penampilan bagus dan beberapa penampilan di bawah standar. Dari total 33 laga, kesenjangan kualitas menjadi kesimpulan yang paling kentara.
Meskipun tekanan di papan bawah begitu mencekik dan rekor mencetak gol di kandang sangat buruk, Van Nistelrooy tetap teguh pada pendiriannya. Ia tak ingin mengubah keputusan-keputusan yang telah diambilnya. "Tugas saya adalah membuat keputusan sebelum pertandingan, bukan sesudahnya," tegasnya. Semua keputusan diambil bersama tim pelatih demi satu tujuan: mendapatkan poin. Kini, ia hanya bisa menunggu, menanti nasibnya yang masih gelap seperti malam tanpa bintang.